Mengapa Usulan Kenaikan Pangkat/jabatan Dikembalikan oleh Tim Ristekdikti

Artikel ini mengutip catatan di halaman facebook Prof. Mikrajuddin Abdullah, dosen FMIPA ITB tentang tips pemenuhan syarat PAK untuk KUM penelitian di publikasi artikel jurnal (tautan terlampir). Beberapa bagian diedit tanpa mengurangi substansi isi.

Berikut tips terkait dengan PAK artikel jurnal:

  1. Yakinkan bahwa makalah yang digunakan sebagai syarat utama terdaftar di Scopus dengan quartile yang sesuai. Lebih jos lagi Anda memberikan makalah dengan quartile di atas yang diminta. Misalnya, diminta Q4, anda kasih Q3 atau Q2 atau Q1
  2. Tapi tunggu dulu. Makalah yang memiliki Q di Scopus ada juga yang meragukan. Kelihatannya akan menghadapi kendala. Hindari jurnal berikut meskipun memiliki Q3 atau Q2:
    1. Tidak ada sejarah editorial (tanggal submit, tanggal accepted, tanggal publikasi), kemungkinan besar abal-abal.
    2. Formatnya tidak konsisten (baik format badan makalah atau referensi)
    3. Jurnal es campur (makalah dari semua bidang ilmu ditampung), hindari.
    4. Editor jurnal tersebut rada-rada meragukan (ada yang tampangnya kaya mahasiswa S1, alamatnya aneh dan tidak ada kaitan dengan scope journal)
    5. Tanggal received dan accepted sangat mepet (hanya 2 migguan). Kalau jurnal demikian gimana cara reviewnya?
  3. Hindari jurnal yang belum dikeluarkan dari list jurnal predator Dikti. Cek: https://predatoryjournals.com/journals/ dan portal PAK (http://pak.ristekdikti.go.id)
  4. Bagaimana kalau jurnal tidak ada di Scopus? Apakah bisa dianggap bereputasi. Cek impact factor. Kalau jurnal tersebut memiliki impact factor WoS, maka itu termasuk jurnal bereputasi.
  5. Bagaimana kalau jurnal tersebut juga belum memiliki impact factor? Masih bisa dianggap internasional bereputasi selama bisa memberikan data tentang reputasi jurnal tersebut. Misalnya, editor jurnal tersebut adalah pakar yang sangat terkenal di dunia dalam bidang terkait. Beberapa penulis jurnal adalah pakar terkenal dunia. Sitasi makalah yang terbit di jurnal tersebut sangat tinggi. Jurnal ini pastilah jurnal yang sangat bereputasi walaupun tidak masuk Scopus. Kita harus ingat, tidak semua jurnal ingin didaftar di Scopus dengan sejumlah alasan yang hanya mereka yang tahu.
  6. Jangan beri nilai maksimum untuk tiap makalah. Walaupun jurnal internasional bereputasi berhak mendapatkan nilai 40, lebih baik jangan kasih 40. Apalagi kalau masih Q4. Misalnya jurnal Q1 maksimum 37, jurnal Q2 maksimum 32, jurnal Q3 maksimum 30, jurnal Q4 maksimum 27. Apakah ada aturannya? Tidak ada. Kok bisa seperti itu? Itulah Indonesia. Seringkali kalau kita terlalu rendah memberikan nilai maka pemeriksa Dikti bisa menaikkan nilai tersebut. Tetapi kalau kita ketinggian memberikan nilai, maka pemeriksa Dikti bisa menurunkan nilai tersebut sehingga syarat untuk naik pangkat/jabatan menjadi tidak terpenuhi. Nah, pilih mana? Mengalah tapi nanti diangkat nilainya, atau nekad dengan nilai tinggi tetatpi berakhir pada kekecewaan.
  7. Yakinkan bahwa semua paper yang dimasukkan dilengkapi URL. Jika paper mempunyai DOI, masukkan. Jika ada makalah yang tidak online, misalnya dari konferensi atau seminar, simpan makalah tersebut di mana sehingga dapat diakses secara online. Caranya, makalah tersebut diubah ke pdf, lalu cantel di mana kek. Lebih bagus ada di repository kampus.
  8. Harus menyertakan hasil pengecakan similarity. Yang digunakan adalah Turnitin. Jadi sekarang, Scopus saja tidak cukup. Harus ditemani oleh Turnitin. Kalau ada makalah yang memiliki kemiripan yang tinggi, masukkan satu saja. Yang lainnya jangan dimasukkan, daripada usuran panjang.
  9. Dan yang tidak kalah penting adalah harus mengusulkan. Kalau tidak mengusulkan jangan mimpi akan naik pangkat atau jabatan
  10.  Setelah semuanya dilakukan, berdoa mudah-mudahan mendapat tim pemeriksa yang begeur pisan.

Tautan:

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.